
Dalam kehidupan sehari-hari, lisan merupakan salah satu anugerah terbesar yang Allah SWT berikan kepada manusia. Dengan lisan, manusia dapat berkomunikasi, menyampaikan informasi, dan mengekspresikan perasaan. Namun, lisan juga bisa menjadi sumber kebaikan atau keburukan tergantung bagaimana cara menggunakannya. Salah satu bentuk penyalahgunaan lisan yang sangat dilarang dalam Islam adalah ghibah atau menggunjing. Ghibah adalah menyebutkan sesuatu yang ada pada saudaramu yang seandainya dia tahu maka dia akan membencinya. Perbuatan ini termasuk dosa besar yang dapat merusak hubungan sosial dan mendatangkan murka Allah SWT.
Definisi Ghibah
Ghibah secara bahasa berarti menggunjing atau membicarakan keburukan orang lain di belakangnya. Secara istilah, ghibah adalah menyebutkan sesuatu yang ada pada saudaramu yang seandainya dia tahu maka dia akan membencinya, baik itu berkaitan dengan fisik, akhlak, perbuatan, maupun hal lainnya. Hal ini dijelaskan dalam sebuah hadits:
“Tahukah kalian apa itu ghibah?” Mereka menjawab, “Allah dan Rasul-Nya lebih tahu.” Beliau bersabda, “Engkau menyebutkan sesuatu yang ada pada saudaramu yang seandainya dia tahu maka dia akan membencinya.” (HR. Muslim)
Larangan Ghibah dalam Al-Qur’an
Allah SWT dengan tegas melarang perbuatan ghibah dalam Al-Qur’an. Dalam Surah Al-Hujurat ayat 12, Allah berfirman:
“Wahai orang-orang yang beriman! Jauhilah banyak dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu dosa. Dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah ada di antara kamu yang menggunjing sebagian yang lain. Sukakah salah seorang di antara kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima tobat, Maha Penyayang.” (QS. Al-Hujurat: 12)
Ayat ini menggambarkan betapa buruknya perbuatan ghibah dengan menganalogikannya seperti memakan daging saudara sendiri yang telah mati, suatu perbuatan yang sangat menjijikkan.
Bahaya Ghibah
- Merusak Hubungan Sosial : Ghibah dapat merusak hubungan antar sesama muslim. Ketika seseorang mengetahui bahwa dirinya telah digunjingkan, maka akan timbul rasa sakit hati, dendam, dan permusuhan. Hal ini tentu bertentangan dengan ajaran Islam yang menganjurkan umatnya untuk saling mencintai dan menjaga ukhuwah Islamiyah.
- Menghapus Amal Kebaikan : Perbuatan ghibah dapat menghapus amal kebaikan seseorang. Dalam sebuah hadits, Rasulullah SAW bersabda: “Barang siapa menahan ghibah terhadap saudaranya, maka Allah akan menyelamatkan wajahnya dari api neraka kelak pada hari kiamat.” (HR. Tirmidzi). Hadits ini menunjukkan bahwa menahan diri dari ghibah dapat menyelamatkan seseorang dari siksa neraka, sebaliknya, melakukan ghibah dapat menyebabkan seseorang terjerumus ke dalam neraka.
- Mendatangkan Murka Allah SWT : Ghibah adalah perbuatan yang sangat dibenci oleh Allah SWT. Dalam Surah Al-Hujurat ayat 12, Allah menggambarkan betapa menjijikkannya perbuatan ghibah. Oleh karena itu, pelaku ghibah akan mendapatkan murka dari Allah SWT dan diancam dengan siksa yang pedih di akhirat kelak.
- Menjadi Penyebab Bangkrut di Akhirat : Dalam sebuah hadits, Rasulullah SAW bersabda: “Tahukah kalian siapa orang yang bangkrut itu?” Para sahabat menjawab, “Orang yang bangkrut di antara kami adalah orang yang tidak memiliki dirham dan harta.” Beliau bersabda, “Sesungguhnya orang yang bangkrut dari umatku adalah orang yang datang pada hari kiamat dengan membawa shalat, puasa, dan zakat, namun dia juga datang dengan membawa dosa mencaci maki orang lain, menuduh orang lain, memakan harta orang lain, menumpahkan darah orang lain, dan memukul orang lain. Maka diberikanlah kebaikannya kepada orang-orang tersebut, dan jika kebaikannya telah habis sebelum dosa-dosanya dibayar, maka dosa-dosa mereka diambil dan dilemparkan kepadanya, kemudian dia dilemparkan ke dalam neraka.” (HR. Muslim) Hadits ini menunjukkan bahwa perbuatan ghibah dapat menyebabkan seseorang menjadi bangkrut di akhirat, karena amal kebaikannya akan diberikan kepada orang yang telah dizaliminya.
Pentingnya Menjaga Lisan
Menjaga lisan adalah salah satu bentuk ketaatan kepada Allah SWT dan Rasul-Nya. Dalam Al-Qur’an, Allah SWT berfirman:
“Tiada suatu ucapan pun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir.” (QS. Qaf: 18).
Ayat ini mengingatkan kita bahwa setiap ucapan yang keluar dari lisan kita akan dicatat oleh malaikat, dan akan dimintai pertanggungjawaban di akhirat kelak.
Dalam sebuah hadits, Rasulullah SAW bersabda:
“Barang siapa beriman kepada Allah dan Hari Akhir, hendaklah ia berkata baik atau diam.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Hadits ini menekankan pentingnya menjaga lisan dengan hanya mengucapkan perkataan yang baik, dan jika tidak mampu, maka lebih baik diam.
Perkataan Ulama tentang Menjaga Lisan
Para ulama juga banyak memberikan nasihat tentang pentingnya menjaga lisan. Imam Al-Ghazali dalam kitab Ihya Ulumuddin menjelaskan bahwa lisan adalah anggota tubuh yang paling berbahaya jika tidak dijaga dengan baik. Beliau berkata:
“Ketahuilah bahwa lisan adalah nikmat Allah yang besar, dan bahaya yang besar pula. Tidak ada anggota tubuh yang lebih pantas untuk dijaga dan dikendalikan selain lisan.”
Imam Asy-Syafi’i juga berkata:
“Jika seseorang ingin berbicara, hendaklah ia berpikir terlebih dahulu. Jika ternyata tidak ada manfaatnya, maka diam lebih baik.”
Nasihat-nasihat ini menunjukkan betapa pentingnya menjaga lisan agar tidak terjerumus dalam perbuatan yang dilarang oleh Allah SWT.
Cara Menghindari Ghibah
- Meningkatkan Kesadaran Diri : Menyadari bahwa setiap ucapan akan dicatat dan dimintai pertanggungjawaban di akhirat dapat membantu kita untuk lebih berhati-hati dalam berbicara.
- Berpikir Sebelum Berbicara : Sebelum mengucapkan sesuatu, pikirkan terlebih dahulu apakah perkataan tersebut bermanfaat atau tidak. Jika tidak, lebih baik diam.
- Menghindari Lingkungan yang Suka Bergunjing : Berkumpul dengan orang-orang yang suka bergunjing dapat mempengaruhi kita untuk melakukan hal yang sama. Oleh karena itu, hindarilah lingkungan seperti itu.
- Mengingat Akibat Buruk Ghibah : Mengingat bahwa ghibah dapat menghapus amal kebaikan dan mendatangkan murka Allah SWT dapat menjadi motivasi untuk menjauhinya.
- Memperbanyak Dzikir dan Membaca Al-Qur’an : Dengan memperbanyak dzikir dan membaca Al-Qur’an, hati kita akan menjadi lebih tenang dan terhindar dari perbuatan yang dilarang oleh Allah SWT.
Ghibah adalah perbuatan yang sangat dilarang dalam Islam karena dapat merusak hubungan sosial, menghapus amal kebaikan, dan mendatangkan murka Allah SWT. Oleh karena itu, marilah kita menjaga lisan kita dengan hanya mengucapkan perkataan yang baik dan bermanfaat. Jika tidak mampu, maka lebih baik diam.