Sekarang kekerasan tidak memandang usia. Kekerasan bisa saja terjadi pada anak-anak. Maka sangat wajib anda mengajarkan dan membekalkan pada anak keberanian. Dengan keberanian anak dapat lebih percaya diri tampil didepan banyak orang dan juga berani dalam menolak dan melawan hal yang membuat tidak nyaman Tidak hanya berani tampil di depan banyak orang, tetapi juga berani menolak jika merasa tidak nyaman dengan apa yang dilakukan dan diterima. Berikut ini beberapa hak yang dapat diajarkan untuk anak berani dan berdaya.
- Biasakan untuk mengikuti kata “tidak” dan “stop” dari anak. Misalnya, saat ia menolak untuk dicium atau meminta berhenti saat digelitiki. Anak berkata seperti itu karena mereka merasa tidak nyaman dengan apa yang diberikan padanya. Dari situ anak dapat belajar mengendalikan dan menghormati kenyamanan tubuhnya.
- Latih spesifik kemampuan anak menghadapi bahaya di tempat umum. Misalnya, ajarkan jika dalam suatu situasi berbahaya untuk berteriak “tolong” dan bukan teriak “bunda atau mama”. Hal ini akan membuat orang-orang di sekeliling lebih waspada dan juga dapat menolong.
- Ajarkan pada anak tentang rahasia baik dan rahasia buruk. Maksudnya, berani mengatakan jujur dengan masalah yang sedang terjadi. Seperti, di bully, anak harus berani mengatakannya kepada orang tua yah walaupun memang diminta untuk tidak menceritakannya kepada siapapun.
- Contohkan dan ajarkan pada anak sejak dini untuk membedakan bagian tubuh yang boleh dan tidak boleh untuk disentuh orang lain. Contohnya sentuhan aman itu seperti saat jabat dan cium tangan, tidak pada sembarang orang dan sentuhan tidak aman saat memegang bagian tubuh yang tertutup rapat.
- Tumbuhkan disiplin positif dalam diri anak, tidak terpengaruh dengan sebuah ancaman dan sogokan. Pelaku kekerasan seksual biasanya sengaja memilih korbannya anak-anak rentan yang sangat mudah ketakutan, kecanduan pujian, dan mencari imbalan untuk melakukan sesuatu.
- Biasakan pada anak untuk mempercayai apa yang dirasakan atau intuisinya terhadap bahaya. Jangan larang anak untuk mendengarkan yang dirasakan. Misalnya, khawatir ketika bertemu orang tertentu.
- Bangun perlahan jaringan sosial (lebih dari satu orang) yang ikut menjaga keamanan anak, seperti nenek dan kakak yang bisa menjadi tempat bercerita.
- Pelaku kekerasan biasanya orang yang dikenal. Mereka menggunakan teknik “grooming”, yaitu untuk mendekatkan diri ke anak dan orang tua. Untuk menghindari hal tersebut maka biasakan untuk terbuka dengan anak tentang orang-orang di sekitar.