Kesalahan Orangtua Memberikan Pujian Pada Anak

Banyak lho, jenis pujian yang tidak menguntungkan bagi anak. Dan banyak orangtua tidak sadar akan kesalahan dalam memberikan sebuah pujian pada anak. Meski, memang pujian sangatlah manis didengar dan pasti dengan tujuan baik juga.

Tapi, terlalu sering memberikan pujian pada anak dapat mendorong anak-anak untuk menjadi bermasalah, misalnya lebih tidak peduli, mudah menyerah, dan lain sebagainya. Berikut ini beberapa kesalahan umum yang banyak dilakukan orangtua dalam memberi pujian pada anak.

  1. Tidak spesifik
    Si kecil sudah bisa membereskan kasur dan mainannya sendiri? Pasti anda akan spontan mengatakan, “wah… kamu hebat!”.

    Tapi tahu tidak bahwa kalimat itu kurang tepat untuk diberikan pada si kecil. Karena, jika anak terlalu sering mendapatkan pujian semajam ini dalam setiap keberhasilannya, membuat anak kurang mampu untuk menghadapi masalah yang lebih sulit lagi.

    Dan si kecil akan berpikir bahwa pencapaian mereka besar atau kecil harus mendapat pujian yang sama. Alangkah baiknya jika kalimat itu diganti dengan kaliamat seperti ini, “mama suka deh melihat kamar dan mainan kamu rapih, kamarnya jadi nyaman deh”.

  2. Memuji kemampuan alami
    Ada kalanya anak makan dengan lahap dan menghabiskan isi piringnya. Spontan anda akan memujinya dengan berkata, “Anak pintar!”.

    Akan tetapi, anda pernah berpikir apakah memuji akan hal tersebut itu perlukah? Sebenarnya hal tersebut bukanlah salah melainkan hanya kurang tepat dilakukan.

    Pasalnya makan bukanlah suatu prestasi anak melainkna kebutuhan yang harus anak dapatkan. Dengan begitu anak jadi paham bahwa makan itu bukan untuk mendapatkan pujian melainkan memang kebutuhan.

    Coba kalimat tersebut diganti dengan kalimat ini “Kamu makan dengan seimbang, ya. Nasi, lauk, dan sayurnya dimakan semua. Bisa kuat, nih, badannya.”

  3. Memberikan label
    Ketika anak ahli dalam suatu bidang akademik atau non akademik pasti anda akan memberikan sebuah pujian. Entah anda memujinya karena kepintarannya atau bakat yang dimilikinya.

    Dengan anda sering memuji anak dengan mengatakan “anak pintar atau anak hebat” misalnya, pujian tersebut justru menjadi patokan anak untuk enggan untuk mengembangkan bakat lain karena ia berpikir bahwa bidang akademik lah yang paling penting dan yang paling bisa membuatnya mendapatkan pujian. Hal itu sama saja dengan anda melabelkan bukan memberikan pujian.

    Sebaiknya, mulailah untuk memberi penilaian serta tantangan yang lebih sulit lagi untuk mengembangkan kemampuannya. Dan jangan lupa untuk mencari tahu lagi jenis pujian apa yang tepat untuk si kecil.

  4. Memuji di depan orang lain
    Pujian menjadi suatu hal yang sangat anak-anak sukai, maka tak jarang ada anak yang ingin dirinya dipuji didepan saudaranya ataupun teman-temannya.

    Tahu tidak bahwa hal tersebut bukanlah hal yang baik untuk dilakukan. Meski niat pujian diberikan hanya untuk memberikan semangat, justru hal itu memicu persaingan antara anak dan teman atau saudaranya.

    Sebaiknya, berikan pujian dengan seimbang antara penilaian yang adil dengan penekanan, supaya anak paham bahwa pencapaian setiap orang itu berbeda-beda.

  5. Pujian palsu
    Terkadang ada orangtua yang tanpa disadarinya memberikan sebah pujian dengan kalimat sindiran atau bisa dibilang pujian palsu. Contoh, “Wah, rajin ya kamu merapikan mainanmu. Tapi, Mama akan lebih senang lagi jika kamu juga lihat isi lemari yang berantakan itu.”

    Dari kalimat diatas, yang tadinya anak senang diberikan pujian seketika seperti disambar petir. Alangkah baiknya jika anda berkata secara langsung apa yang anda harapkan contoh, “Mainan sudah rapi, nih nak. Saatnya bereskan lemari.”

    Ingat dengan anda menyindir anak ketikan memberikan pujian, itu akan membuat perasaan positif anak menjadi hilang dan anak menjadi defensif karena rasa malu akibat sindiran anda.