Meneladani Nabi Ismail AS Dari Sejarak Berkurban

Sebagian besar anak-anak menyukai cerita atau dongeng dalam proses belajar dan bahkan lebih mudah memahami sesuatu jika dijadikan cerita. Nah, berhubung sudah mendekati Hari Raya Idul Adha atau dikenal juga sebagai Hari Raya Kurban, maka sudah tepat sekali jika anak-anak diberikan cerita mengenai bagaimana berbaktinya seorang Nabi Ismail kepada sang ayah, yakni Nabi Ibrahim. Namun, sebelum itu, sudah tau belum sejarah singkat dari berkurban ? sudah tau belum bagaimana awal mula nabi Ismail dikatakan nabi yang paling berbakti ? yuk kita bahas.

Dikisahkan dalam Alquran Surah As-Saffat ayat 100 yang artinya :”Ya Tuhanku, anugerahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang yang saleh”. Dari ayat ini kita ketahui bahwa Nabi Ibrahim AS sangat menginginkan seorang anak (keturunan). Kemudian, Allah SWT menjawab doa nabi Ibrahim, hal ini diterangkan dalam QS; As-Saffat ayat 101 yang artinya: “Maka Kami beri kabar gembira kepadanya dengan (kelahiran) seorang anak yang sangat sabar (Ismail).”

Namun, setelah Nabi Ismail AS lahir, Allah SWT memberi perintah kepada Nabi Ibrahim AS untuk memindahkan Nabi Ismail AS dan ibunya, Siti Hajar ke Mekkah. Konon, kota Mekkah adalah padang pasir tandus yang tidak memiliki pepohonan dan sumber air. Namun, Nabi Ibrahim AS harus rela meninggalkan anak dan istrinya di sana.

Siti Hajjar yang kebingungan dan tidak bisa menyusui Nabi Ismail AS yang masih bayi mendapat pertolongan dari Allah SWT, seketika di hentakan kaki mungil Nabi Ismail AS memancar mata air yang hari ini disebut sebagai Air ZamZam.

Singkat cerita, Nabi Ismail AS dan Siti Hajjar mampu bertahun dan membangun kota Mekkah. Nabi Ismailpun besar dan sangat dicintai oleh Nabi Ibrahim. Akan tetapi, datanglah perintah dari Allah SWT untuk menguji seberapa besar keimanan dan ketakwaan Nabi Ibrahim dan seberapa besar kesabaran dari Nabi Ismail sendiri.

Pada suatu malam, Nabi Ibrahim AS bermimpi dan diberi perintah untuk menyembelih anak tercinta, yakni Nabi Ismail AS. NAbi Ibrahim sangat sedih dan sessat berfikit untuk mengingkari perintah Allah SWT. Namun bagaimanapun mimpi itu tetap diceritakan oleh Nabi Ibrahim kepada Nabi Ismail. Di luar dugaan, Nabi Ismailpun menyetujui perintah tersebut.

Hal ini diterangkan langsung dalam QS. As-Saffat: Ayat 102 yang artinya: “Maka ketika anak sampai (pada umur) sanggup berusaha bersamanya, (Ibrahim) berkata, Wahai anakku! Sesungguhnya aku bermimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah bagaimana pendapatmu! Dia (Ismail) menjawab, Wahai ayahku! Lakukanlah apa yang diperintahkan (Allah) kepadamu; insyaallah engkau akan mendapatiku termasuk orang yang sabar.”

Tibalah waktu untuk menyembelih Nabi Ismail As, ketika Nabi Ibrahim AS meletakkan pedang di leher Nabi Ismail AS, datanglah malaikat Jibril dan mengganti Nabi Ismail AS dengan seekor domba yang gemuk. Hal ini diceritakan dalam QS. As-Saffat: Ayat 103-105 yang artinya : “Tatkala keduanya telah berserah diri dan Ibrahim membaringkan anaknya atas pelipis (nya), (nyatalah kesabaran keduanya), lalu Kami panggil dia, Wahai Ibrahim! Sungguh, engkau telah membenarkan mimpi itu. Sungguh, demikianlah Kami member balasan kepada orang-orang yang berbuat baik.”

Dari kisah ini, kita tidak hanya mengetahui sejarah berkurban, tetapi kita juga mampu memetik bagaimana ketundukan dan kesabaran Nabi Ismail kepada perintah Ayah dan Allah SWT. Selain itu, kita mengetahui bagaimana Nabi Ibrahim AS menjunjung tinggi demokrasi dalam keluarganya. Perintah langsung dari Allah SWT pun masih dibicarakan terlebih dahulu kepada anaknya. Begitulah orangtua semustinya, libatkan anak dalam setiap keputusan bersama, jangan hanya berpikir dan memutuskan sendiri.